"Riset membuktikan bahwa pekerja punya tiga kebutuhan utama, yakni pekerjaan menarik, pengakuan atas kerja yang baik, dan dilibatkan dalam isu perusahaan", Zig Ziglar, pembicara motivasional
Banner


Memimpin dengan Hati

Menceritakan kembali keluarbiasaan orang yang kita cintai selalu membuat hati nelangsa. Kita merasa kehilangan. Air mata mengalir. Namun, bukan untuk beromantika, pun tidak untuk mengultuskan pemimpin yang telah tiada. 

Pendokumentasian tafsir atas pikiran, strategi, sikap, serta rekam jejak tokoh penting yang wafat saat menjabat posisi tertinggi di sebuah perusahaan besar nasional ini ditujukan sebagai pembuka wawasan, sekaligus sumber inspirasi dan pembelajaran bagi semua orang serta para calon pemimpin bangsa ini di masa depan. 

Setidaknya, begitulah maksud di balik penggarapan yang sangat serius demi terbit dan beredarnya buku Michael D Ruslim, Lead by Heart ini. Bukan tanpa sebab. Hasrat menerbitkan biografi ini juga cocok untuk negeri yang masih terus mendambakan hadirnya pemimpin-pemimpin ideal. 

Semua tahu bukan hal mudah mengelola bangsa yang sedang meniti masa-masa transisi ini. Harus tegas tapi haram menggunakan kekerasan. Di tengah pencarian tokoh dengan pribadi sempurna semacam itu, bahkan banyak orang bergumam sinis bahwa di atas tuntutan untuk maju serta kompleksitas persoalan yang seakan rumit, rasanya Indonesia harus dipimpin seorang malaikat. 

Di antara banyak tokoh nasional ataupun tokoh dunia, gaya Pak Michael memimpin PT Astra International Tbk yang ditulis di sini sangat layak untuk kita pelajari. “Tidak sekadar melengkapi pustaka tentang kepemimpinan,” begitu kata pengantar yang disampaikan Prijono Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra International Tbk, yang meneruskan estafet kepemimpinan Astra. 

Sepanjang hidup dan khususnya selama masa tugas, tokoh dalam buku ini menunjukkan gaya memimpin dengan amat baik.Hampir semua poin positif yang ada pada bermacam- macam tipe pemimpin terkumpul menjadi satu diri pada pribadi almarhum. 

Dia cerdas tanpa harus membuat orang lain merasa bodoh,cepat bertindak sekaligus sabar, sangat berani namun penuh perhitungan matang, meskipun tegas plus disiplin layaknya militer ia tidak menyeramkan, dan ia rasional plus religius. Tidak lupa, dialah orang kantoran supersibuk dengan jabatan tertinggi di perusahaan tempat ratusan ribu pegawai berkarya, tapi juga family man. 

Bukti-buktinya terpapar dengan jelas dalam lembar-lembar setebal 347 halaman. Gizi buku dengan tema kepemimpinan makin terasa lengkap karena dipadati dengan kutipan-kutipan dari para pakar leadership. 

Mulai dari Tao Te Ching,John C.Maxwell, Marc Michaelson, atau Robin S Sarma pengarang “The Monk Who Sold His Ferrari: A Fable about Fulfilling Your Dream and Reaching Your Destiny”, yang menyebutkan ciri pemimpin otentik (bukan artifisial) dari ada tidaknya “heart” dalam kepemimpinannya. 

Juga referensi-referensi yang dapat memotivasi orang untuk kreatif seperti “Who Moves My Cheese?” tulisan Johnson Spencer, serta spirit untuk berbagi dan peduli orang lain versi Robert Fulghum dengan bukunya “All I Really Need to Know I Learned in Kindergarten.” 

Selain sebagai bacaan instan untuk menambah knowledge pembaca, penyertaan referensi- referensi yang memang pernah dilahap almarhum ini punya makna lain. Para penyusun yang terdiri dari orangorang dekat beliau, seperti Wiwiek D Santoso, Paulus Bambang WS, Ekuslie Goestiandi, Yakub Liman, dan Yulian Warman, ingin menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual, emosional, serta spiritual sang pemimpin tidak muncul tibatiba. Nature-nya ia memang sudah positif. 

Lingkungan makin mematangkan kepribadiannya (nurture).Ada proses belajar tanpa henti. Baik secara langsung sejak bergabung ke Astra pada tahun 1983, kemudian masuk ke jajaran direksi pada 2000, hingga saat menduduki posisi tertinggi di perusahaan ini mulai 2005. 

Selain belajar dari para seniornya, proses belajar itu juga ia serap melalui buku-buku. Almarhum Michael D Ruslim memang mengaku sebagai seorang pembelajar. “I’am a man of learning,” katanya. 

Buku ini pun bijaksana dalam memotret profil sang tokoh.Kendati dengan tangan dinginnya Astra mencapai kesuksesan, lolos dari badai krisis 1997–1998, tekanan utang pada 2002, maupun 2008 saat dunia usaha gemetar akibat dampak keruntuhan Lehman Brothers yang bisa saja menenggelamkan perusahaan yang didirikan Om William ini, tohmereka juga menempatkan secara proporsional faktorfaktor lain di balik kejeniusan Pak Michael. Ada kondisi makroekonomi, SDM Astra yang dapat diandalkan, ataupun fondasi bisnis Astra yang memang kuat. ● Mochamad Husni, mantan wartawan sekarang bekerja di bagian Marketing Communication PT Astra International Tbk – AstraWorld 
Share on facebook
Follow Us
Banner
Banner
Hit Kunjungan
696401
Hari ini21
Kemarin109
Minggu ini449
Total Kunjungan696401
Dollar Income..!!!
Powered by