"Kapan pun ada pekerjaan berat, saya tugasi seorang pemalas untuk melakukannya. Sebab dia pasti akan mencari cara termudah untuk menyelesaikannya." Walter Chrysler, pendiri Chrysler Corp
Banner


Reputasi Adalah Aset Tak Berwujud (Intangible Asset)

User Rating: / 4
PoorBest 

Dalam tulisan lain di buku Jurus Proaktif Menunjang dan Memacu Pemulihan Ekonomi karangan Roy Sembel, diungkapkan bahwa penelitian empiris terhadap teori penilaian aset yang memenangkan hadiah Nobel yaitu Capital Asset Pricing Model (CAPM) mendukung hal ini. Kegagalan teori CAPM tradisional membuat peneliti berusaha mengembangkan teori CAPM versi baru. Salah satu versi yang cukup meyakinkan adalah CAPM dengan human capital yang dikembangkan oleh Ravi Jaganathan dan Zhenyu Wang sebagai bagian dari model yang mereka namakan CAPM bersyarat (Conditional CAPM). Dalam artikel mereka"The Conditional CAPM and the Cross-Section of Expected Return" dalam Journal of Finance, Jaganathan dan Wang berpendapat bahwa selain modal uang yang telah dicoba diwakili dalam CAPM dengan portofolio pasar, ada lagi modal yang belum terukur dalam CAPM, salah satu yang dominan adalah modal manusia.
Hasil penelitian tersebut diperkuat oleh fakta berdasarkan data empiris tahun 1945-1990, bahwa nilai Market-to-Book Value dari saham (MBV), yaitu rasio nilai pasar dan nilai buku saham, perusahaan-perusahaan di AS berfluktuasi namun tidak jauh dari angka satu. Informasi yang bersumber dari presentasi perusahaan konsultan McKinsey & Co pada sebuah seminar di Jakarta menunjukkan bahwa persepsi investor tentang nilai saham perusahaan (yang tercermin dari harga saham di pasar modal) dalam jangka panjang rata-rata konvergen dengan nilai saham yang tercatat di pembukuan neraca perusahaan. Nilai yang tercatat di neraca secara dominan dipengaruhi oleh nilai aset fisik atau aset berwujud (tangible assets) seperti uang tunai, gedung, pabrik, peralatan.
Namun sejak awal dekade 1990-an nilai MBV cenderung bergerak naik sampai mencapai puncaknya sekitar 4. Artinya, rata-rata nilai saham di pasar lebih dari 4X lipat rata-rata nilai saham menurut pembukuan neraca. Dengan perkataan lain, hanya kurang dari ¼ dari nilai saham dipengaruhi oleh nilai bukunya yang dominan dipengaruhi oleh nilai aset fisik. Selebihnya, lebih dari ¾ - nya, datang dari sumber lain, yaitu intangible assets atau aset tak berwujud (ATB), berupa antara lain: intellectual property, human capital, network dan brand.
Dengan analogi dunia korporasi di atas, demikian halnya dengan nilai dari seorang individu tidak hanya dihitung dari nilai aset fisiknya semata (berapa kekayaan atau nilai aset fisik kita seperti uang tunai, simpanan, deposito, rumah, mobil, dan sebagainya), tetapi juga aset tak berwujud berupa: kecerdasan (IQ, EQ dan SQ), bakat/talenta, jejaring sosial dan reputasi atau brand seseorang dalam masyarakat. Salah satu tujuan manajemen diri adalah meningkatkan nilai seorang individu dan kemampuannya untuk mengakumulasikan aset yang dimilikinya sehingga mencapai suatu kualitas hidup sesuai dengan impian dan misi hidupnya. Jadi penting sekali buat kita untuk dapat meningkatkan aset tak berwujud yang kita miliki. Cara kita meningkatkan kecerdasan (IQ, EQ dan SQ) akan dibahas tersendiri dalam kesempatan lain, demikian halnya dengan bagaimana meningkatkan aset jejaring sosial (network). Kedua hal ini diuraikan dalam buku SELF MANAGEMENT -12 Langkah Manajemen Diri karangan Aribowo Prijosaksono dan Marlan Mardianto.

 

Share on facebook
Follow Us
Banner
Banner
Hit Kunjungan
737598
Hari ini90
Kemarin154
Minggu ini550
Total Kunjungan737598
Dollar Income..!!!
Powered by