"Dalam ekonomi baru, informasi, edukasi dan motivasi adalah segalanya", (Bill Clinton, mantan presiden AS)
Banner


Membangun dan Mengembangkan Reputasi (Personal Branding )

User Rating: / 2
PoorBest 

Ketika kita bekerja dan membangun karir serta berinteraksi dalam masyarakat atau dunia profesi, sesungguhnya kita sedang melakukan proses membangun suatu reputasi atau "merek" pribadi (personal brand). Membangun sebuah nama atau reputasi berarti kita menciptakan "merek" atau persepsi orang lain atau masyarakat terhadap kita. Inilah hal yang perlu kita perhatikan, karena reputasi atau merek pribadi adalah suatu aset tak berwujud yang dapat memberikan imbal hasil (return) yang besar ketika reputasi itu menjadi semakin dikenal dan dipercaya oleh orang lain. Jadi pada dasarnya kehidupan kita setiap hari setiap saat merupakan sebuah proses pembentukan personal brand yang juga berarti citra diri kita atau "price" kita.


Ada tiga faktor penting yang mempengaruhi reputasi atau personal brand kita, yang kita singkat dengan 3C: Competence - Character - Communication.
1. Kompetensi atau Kemampuan Individu
Untuk membangun reputasi atau personal branding, kita harus memiliki suatu kemampuan khusus atau kompetensi dalam satu bidang tertentu yang kita kuasai, entah itu berupa ketrampilan teknis tertentu seperti bidang keuangan, manajemen, teknologi informasi, teknik rekayasa, kedokteran spesialis, akuntansi, penulisan buku, olahraga, seni dan budaya termasuk melawak, menari, main musik, menyanyi, bermain sinetron, bermain sulap atau misalnya hanya sekedar kompetensi dalam pengurusan surat-surat penting (BPKB, STNK, SIUP, dll), membuat kue dan memasak. 
Banyak contoh mereka yang benar-benar mengembangkan kompetensi di bidang yang selama ini nampaknya tidak bisa dijadikan gantungan hidup dan menjadi suksses di bidang tersebut, seperti kemampuan memasak, kita dapat mengambil contoh Rudy Choiruddin, kemampuan melawak: ada Patrio, Bagito, Srimulat, dan keahlian bermain "sulap" seperti Deddy Corbuzier (mohon maaf jika ejaan namanya keliru). Individu-individu ini telah berhasil membangun reputasi atau brand yang kuat karena mengembangkan kompetensi di bidangnya masing-masing dengan ketekunan dan kegigihan sehingga mereka menemukan tempatnya dalam dunia hiburan yang menjadikan mereka selebritis dalam masyarakat.
Apa yang dapat kita pelajari dari individu-individu sukses tersebut adalah pilihan yang mereka ambil apapun itu, dijadikan sebagai komitmen hidup mereka, sehingga mereka terus berusaha meningkatkan kompetensi di bidang mereka masing-masing. Hal yang paling penting dalam mengembangkan kompetensi adalah: pertama, pilihan tersebut adalah benar-benar hal yang kita inginkan dalam hidup kita. Pilihan karir atau profesi itu adalah sejalan dengan misi atau tujuan hidup kita. Sehingga dalam menjalankannya kita memiliki energi dan antusiasme yang merupakan prasyarat keberhasilan kita. Kedua, kita harus mengembangkan kompetensi dengan senantiasa belajar dan memperbaiki kemampuan kita. Inilah yang kami sebut dengan a lifetime learning process.
Hal ini berarti bahwa proses belajar adalah merupakan bagian dari proses kita membangun dan menciptakan reputasi (personal brand). Melalui pembelajaran seumur hidup, kita mengembangkan kompetensi dalam bidang kita masing-masing sehingga kita semakin piawai dan kreatif dalam bidang tersebut. Prinsipnya adalah kita harus selangkah lebih maju dari orang lain dalam bidang yang kita tekuni tersebut. Dengan sikap dan semangat seperti ini, kita tidak bisa membendung keinginan kita untuk senantiasa belajar dan belajar, baik melalui buku, kaset, seminar, sekolah formal dan nonformal, diskusi dan interaksi dengan mereka yang berada dalam bidang profesi yang sama dengan kita, melalui organisasi atau asosiasi, dan sebagainya.
Dengan demikian belajar bukan hanya mengandalkan pendidikan formal di sekolah dan perguruan tinggi. Justru ketika kita lulus dari pendidikan formal, kita sebenarnya memasuki sebuah universitas kehidupan (the university of hardknocks life), pada saat itulah sebenarnya pembelajaran paling banyak terjadi. Kita belajar dari pengalaman dan interaksi kita dengan orang lain. Semakin tinggi kemampuan pembelajaran kita (skill of learning) semakin cepat proses pengembangan dan peningkatan kompetensi kita, sehingga dalam jangka panjang semakin terakumulasi menjadi bagian dari citra atau reputasi kita di bidang tersebut. Jadi untuk meningkatkan kompetensi kita, kita harus memiliki ketrampilan untuk belajar dan melakukan proses belajar senantiasa.

2. Karakter
Ada dua komponen penting dalam pengembangan karakter seseorang, yaitu integritas dan kepribadiannya. Integritas berarti satunya kata dengan perbuatan. Apa yang kita ucapkan adalah janji kita (my word is my bond), yang berarti kita selalu menepati dan memenuhi apa yang kita ucapkan atau kita janjikan kepada orang lain. Dengan bahasa lain, kita memberikan apa yang kita janjikan kepada orang yang menerima jasa kita. Seorang pemain musik akan memberikan musik yang terbaik bagi para penggemarnya, seorang pembicara publik memberikan gagasan dan pandangan terbaiknya mengenai suatu hal kepada khalayak pendengarnya, seorang penulis menuliskan karya terbaik bagi pembacanya. Pendeknya integritas disini juga menunjukkan derajat komitmen dan kesungguhan seseorang terhadap bidang yang ditekuninya. Integritas berarti memelihara komitmen apapun yang terjadi dan berapapun biaya atau pengorbanannya. Seseorang yang tidak bisa memelihara komitmen, akan merusak reputasinya sendiri. 
Hal ini diuraikan dengan menarik oleh Stephen Covey ketika dia membuat analogi deposito kepercayaan (trust) dalam berinteraksi dengan orang lain. Dalam membangun reputasi atau personal brand, kita sesungguhnya sedang membuat deposito dalam rekening bank emosi orang lain. Melalui integritas dan kepribadian kita, yaitu sopan santun, kebaikan hati, kejujuran, dan pemenuhan setiap komitmen, berarti kita sedang menambah cadangan kepercayaan (trust) orang lain yang menjadi stakeholders kita. Dengan semakin besar cadangan deposito kepercayaan dalam rekening bank emosi orang lain atau masyarakat, dalam kondisi tertentu mereka bisa memahami ketika kita membuat "nila" setitik, apalagi bukan karena kesengajaan.
Demikian pula halnya semakin tinggi tingkat kepercayaan karena karakter yang kita bangun, komunikasi pun menjadi mudah, cepat dan efektif.

3. Kemampuan Komunikasi 
Faktor ketiga yang penting dalam membangun reputasi adalah kemampuan kita dalam mengkomunikasikan gagasan atau kompetensi kita kepada pihak lain. Komunikasi disini termasuk cara kita mempresentasikan diri dan gagasan kita (performance), dan teknik atau saluran komunikasi yang kita pilih. Justru di sinilah letak pentingnya proses membangun reputasi atau brand, yaitu kita harus sering dan secara ajeg melakukan komunikasi ataupun exposure dengan jejaring atau network kita, sehingga mereka semakin memiliki persepsi yang terbentuk dari kompetensi dan integritas kita.
Sebagai contoh yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari ada berapa banyak doktor (PhD) dalam bidang ekonomi dan keuangan, tetapi hanya satu dua yang memperoleh tempat di hati publik dan sering diundang untuk berbicara dalam berbagai seminar dan dimintai pandangannya oleh media massa. Hal yang membedakan bukan sekedar kompetensi teknis atau hardskills semata yang mereka miliki, tetapi lebih dari itu adalah kemampuannya dalam mengkomunikasikan diri dan gagasannya kepada publik, entah melalui tulisan atau artikel di media massa, sering menghadiri seminar dan berperan aktif dalam bidangnya, atau bahkan melalui penulisan buku dalam bidang kompetensinya.
Jadi dengan menggabungkan ketiga faktor tersebut, yaitu kompetensi, karakter dan komunikasi, kita dapat mulai terus membangun dan mengembangkan reputasi kita dalam bidang khusus yang kita pilih dan kita kuasai dan yang memang menjadi pilihan atau misi hidup kita. Kita harus ingat, jangan peduli dengan apa yang anda miliki sekarang. Jangan pesimis dengan situasi atau keberadaan anda saat ini. Yang paling penting adalah kita harus menemukan tujuan hidup atau misi kita dan mulai membangun reputasi melalui peningkatan kompetensi (pembelajaran seumur hidup), membangun karakter yang berarti meningkatkan kepercayaan network kita terhadap kompetensi maupun integritas kita, serta senantiasa menggunakan berbagai cara untuk mengkomunikasikan kompetensi kita. Proses membangun reputasi adalah proses seumur hidup. Kita berharap semakin bertambah usia kita, semakin kuat "brand" kita di masyarakat.

 

Share on facebook
Follow Us
Banner
Banner
Hit Kunjungan
721207
Hari ini89
Kemarin99
Minggu ini424
Total Kunjungan721207
Dollar Income..!!!
Powered by