"Banyak-banyaklah berbincang langsung dengan konsumen. Anda akan terkejut betapa banyaknya perusahaan yang tidak pernah mendengarkan konsumennya." Ross Perot, Pengusaha asal Texas AS
Banner


Kreativitas dengan inovasi itu berbeda

User Rating: / 2
PoorBest 
Oleh : Simon Jonathan. Kreativitas dengan inovasi itu berbeda. Kreativitas  merupakan pikiran untuk menciptakan sesuatu yang baru,  sedangkan  inovasi adalah  melakukan  sesuatu yang baru. Hubungan  keduanya  jelas. Inovasi merupakan aplikasi praktis dari kreativitas. Dengan  kata lain, kreativitas bisa merupakan variabel bebas, sedangkan inovasi adalah variabel tak bebas. Dalam praktek bisnis sehari-hari, ada perencanaan yang meliputi  strategi,  taktik, dan eksekusi. Dalam  pitching  konsultansi atau agency, sering terdengar keluhan bahwa secara konseptual apa yang  disodorkan agency bagus, tetapi strategi itu tak  berdampak pada  perusahaan  karena  mandek di  tingkat  eksekusi.  Mengapa? Sebab, strategi bisa ditentukan oleh seseorang, tetapi  eksekusinya  harus  melibatkan  banyak orang, mulai  dari  atasan  hingga bawahan. Di sinilah mulai ada gesekan antarkaryawan, beda persepsi hingga ke sikap penentangan. 
Itu sebabnya, tak ada perusahaan yang mampu berinovasi  secara konsisten  tanpa  dukungan karyawan yang bisa  memenuhi  tuntutan persaingan. Hasil pengamatan kami menunjukkan, perusahaan-perusahaan  inovator sangat memperhatikan masalah  pelatihan  karyawan, pemberdayaan, dan juga sistem reward untuk meng-create daya pegas inovasi.  Benih-benih inovasi akan tumbuh baik  pada  perusahaan-perusahaan  yang selalu menstimulasi karyawan, dan  mendorong  ke arah ide-ide bagus. Melalui program pelatihan, sistem reward, dan komunikasi,  perusahaan terus berusaha untuk  mendemokratisasikan inovasi.        
Dalam  pasar  bebas, inovasi merupakan salah  satu  keunggulan bersaing. Banyak perusahaan yang profitabilitasnya di-drive  oleh inovasi produk. Garudafood, misalnya, meski pendapatan  terbesarnya  dari kacang, juga memunculkan produk-produk  baru,  seperti Okky  Jelly Drink. Begitu juga Dua Tang dengan Frutang-nya,  Bintang Toedjoe dengan Extra Joss, Komix, dan sebagainya.
Di  sini inovasi tak selalu mengacu kepada sesuatu  yang  baru sama  sekali. Okky Jelly Drink, misalnya, merupakan turunan  dari Frutang  dengan menambahkan jelly ke dalamnya. Sementara  Frutang adalah turunan  dari sirup Orson, yang  diencerkan  dan  dikemas dalam  gelas  plastik ukuran kecil. Ini jamak dilakukan,  bahkan oleh perusahaan multinasional sekalipun. Pampers dari P&G, misalnya,  bukan murni temuan P&G, melainkan hasil  konsolidasi  Chux, produk  tahun  1932, dan Chicopee Mills, salah satu  unit  bisnis Johnson & Johnson.  
Ibarat  tanaman,  untuk setiap seribuan bunga  pasti  terdapat jutaan  gulma. Jadi, sebelum menghasilkan, akan  banyak  gangguan dan  rintangan. Maka, sebenarnya by nature inovasi itu  membuang-buang  waktu. Ia memerlukan eksperimen,  investasi  yang  sangat spekulatif,  dan  kegagalan.  Beberapa  studi menunjukkan  bahwa peningkatan belanja inovasi tidak selalu berbanding lurus  dengan peningkatan penjualan, pangsa pasar, atau profitabilitas.
Di perusahaan-perusahaan global juga terjadi fenomena  seperti itu.  Pada 1995, Polaroid terus mengucurkan dananya  untuk  riset dan pengembangan, namun tetap gagal keluar dari tuntutan kebangkrutan.  Maytag,  yang mulai meningkatkan  anggaran  R&D-nya  pada 2001, sampai 2003 penjualannya tetap menurun. Hasil studi  terhadap 30 perusahaan yang masuk dalam Global  500 menunjukkan, tidak ada korelasi antara peningkatan biaya R&D dan perbaikan  profitabilitas. 
Pada  1999  PT Unilever Indonesia mendapati bahwa  dari  1.600 merek yang mereka pasarkan, hanya 50 atau sekitar 3% yang menyumbang  pada 63% pendapatannya. Itu menunjukkan bahwa banyak  merek yang ditangani Unilever belum memberikan kontribusi sesuai  harapan. Bahkan beberapa merek yang diluncurkan Unilever, seperti Mie and Me dan Tara Nasiku, bubar di tengah jalan.
Kegagalan  suatu  produk bisa disebabkan  oleh  beberapa  hal. Pertama, karena waktunya tidak tepat. Kedua, cara masuknya  tidak tepat. Dan ketiga, produknya tidak tepat. Banyak merek yang besar karena  adanya peluang dan kesempatan. Artinya, mereka  masuk  ke pasar  pada saat dan dengan cara yang tepat. Pocari  Sweat  besar setelah  merebaknya kasus demam berdarah. Koran Bisnis  Indonesia menjadi besar saat pasar modal mulai marak. Namun, untuk  menjadi unggul,  merek-merek  tadi harus memiliki  banyak  amunisi.  Satu gebrakan tak akan menggigit.
Agar menjadi trend driver, suatu perusahaan memerlukan  kemampuan untuk mengubah keunggulan tadi menjadi sesuatu yang sustainable,  dengan  secara aktif mengelola persepsi  konsumen,  dengan terus-menerus masuk ke new category atau sub category, dan menjadi  dominan di arena baru. Ini tak hanya membutuhkan sumber  daya dan  pengakuan,  tetapi  juga kompetensi  dalam  membangun  suatu brand.     
Inovator, sebagai individu, juga mempunyai karakter yang sama. Dia bisa besar karena peluang dan kesempatan. Itu sebabnya banyak inovator yang sukses di suatu perusahaan, tetapi ketika pindah ke perusahaan lain prestasinya tak seperti di perusahaan lama. Ambil contoh  Alex  Kumara. Hampir semua pebisnis tahu peran  dia  saat membesarkan  RCTI dan TransTV. Namun, ketika masuk ke TVRI  sejak setahun lalu, sampai kini belum terdengar perubahan yang  terjadi di stasiun TV itu.
Begitu juga Surja Handoko. Tangan dinginnya berhasil  mengangkat  kembali A Mild yang penjualannya sempat  turun.  Prestasinya melejit  hingga  diangkat menjadi direktur  pemasaran  Sampoerna. Namun, ketika dia berusaha memoles merek-merek Bentoel,  karyanya tak secemerlang ketika di A Mild. Baru dua tahun Surja berkiprah, ia mengundurkan diri dari Bentoel.     
Mengapa  para inovator pindah? Sulit menebak  pikiran  mereka. Bahkan  saya juga ragu, apakah mereka jujur  dalam  mengungkapkan alasan kepindahannya. Berkaca pada teori Maslow, sulit  mendapatkan  jawabannya secara pas. Apa yang tidak mereka  dapatkan  dari perusahaan yang lama? Aktualisasi diri? Apakah di perusahaan lama mereka  tidak mendapatkannya?  Secara jujur, kalau Anda  bertanya kepada saya mengapa keluar dari PT Bintang Toedjoe dan mendirikan Brandmaker,  Anda  pun jangan berharap mendapatkan  jawaban  yang jujur  dari  saya.  Sebab, apa pun jawaban  saya,  persepsi  Anda mengatakan: klise! 

Share on facebook
Follow Us
Banner
Banner
Hit Kunjungan
730555
Hari ini231
Kemarin158
Minggu ini995
Total Kunjungan730555
Dollar Income..!!!
Powered by