Bu Gito si Penjual Sayur (Marketing inspiration)

User Rating: / 0
PoorBest 

BERBEDA..seperti Bu Gito Si Penjual Sayur yang Aneh itu !!

Artikel kali ini adalah tentang Bu Gito (bukan nama sebenarnya)..dia penjual sayur dikomplekku. Tapi tunggu..jika yang ada dipikiran kalian adalah mbok-mbok penjual sayur..sepertinya kalian salah besar. Bu Gito, jauh dari streotype seorang mbok-mbok penjual sayur. Dia jelas-jelas berbeda. Berdagang sayuran, buah, cabe, areng, jengkol, minyak tanah dan sebagainya dilantai bawah rumahnya yang bertingkat tiga itu. Perhatikan gelang dan cincin yang melingkar berkilat-kilat ditangan keriputnya itu...fuiiiih..melihatnya saja sudah terasa meelahkan buat jari jemariku. Bu Gito adalah superstar. Buah bibir seluruh ibu-ibu komplek. Jika artis baru akan digosipin jika mereka berfoto telanjang di internet, tidak demikian dengan Bu Gito. Hampir setiap hari ibu-ibu komplek menggossipkan dirinya. Tanpa henti. Setiap hari selalu saja ada yang ngedumel dan memujinya.


Bicara tentangnya selalu melibatkan dua hal : benci tapi rindu. Ini berkaitan erat dengan tingkah lakunya yang memang aneh dan sangat berbeda dari pedagang sayur biasa. Jika lumrahnya pedagang sayur bangun subuh..lalu membuka lapaknya pagi hari..tidak demikian dengan pedagang yang satu ini. Hampir setiap hari Ia bangun siang..namun juga hampir selalu berwajah mengantuk...dan selalu ketiduran di antara dagangannya ketika siang menjelang sore. Kadang terlentang..kadang tengkurap beralaskan koran-koran, gaya tidurnya.. persis Tono, hansip komplek kami, yang bertugas jaga malam...satu tangan menutupi wajah..tangan lain berada diatas perut.

Satu hal yang 'mati--matian' dikutiki ibu-ibu komplek : keleletannya dalam melayani customer. Jika penjual sayur lain tampak gesit bak kijang di savana Afrika..yang meloncat kekiri dan kekanan..berkelebat kesana kemari..maka gerakan Si Ibu dapat disamakan dengan... Kuda Nil. Laaaambaaaaaat buaaangeeeeetttt..dan cenderung diam...zzzzz...tertidur !!

Akan tetapi....
yang membuat ia begitu dirindukan adalah kelengkapan dagangannya..sejauh yg kuketahui..belum pernah seorangpun tetangga, pembantu rumah tangga, atau istriku mengeluh bahwa sesuatu yang mereka cari, tidak ada ditempat Bu Gito. Asal itu berhubungan dengan sayuran, terasi, keluwek, jengkol, bumbu dapur dan sebangsanya...pasti mereka berkumpul di sana..dilapak mewah Bu Gito.

Kalian boleh percaya atau tidak...ujung-ujungnya tempat Bu Gito adalah markas berkumpulnya ibu-ibu komplek..yang karena kelamaan menunggu..akhirnya ngobrol dengan sesama..berbicara apa saja..apa saja..sekedar mengisi jeda panjang yang ditimbulkan Sang Kuda Nil betina ini. Alhasil..lapaknya selalu terlihat rame..sepanjang siang dan sore.

Entah disengaja atau tidak..kelakuan Bu Gito mengingatkanku akan salah satu jurus pamungkas branding yg begitu sering didengung-dengungkan Al Ries dan putrinya Laura Ries dalam berbagai buku mereka...salah satunya War in The Boardroom.

--Sebagai seorang Creative Junkies yang sering bersentuhan dengan berbagai client dari berbagai perusahaan..tentunya aku harus memahami hal-hal dalam dunia marketing (ehm!) --

"Jika Anda mencoba memenangkan persaingan hanya dengan memperbaiki mutu produk Anda..bersiap-siaplah kecewa..karena seringkali..yang dibutuhkan dalam bisnis adalah..menjadi berbeda. Karena harga seringkali adalah sebuah persepsi, yang tidak berbanding lurus dengan kualitas"

"Business is about attractions !", kata Roger Hamilton, penulis buku Wink and Grow Rich, kepada kami peserta seminarnya disuatu kesempatan.

Brian Tracy menuliskannya dengan sedikit berbeda dalam buku best sellernya The Psychology of Selling, "words of mouth adalah senjata yang paling ampuh..dan iklan terbaik..entah itu buruk atau baik, publisitas selalu dibutuhkan. Semua orang mencari sesuatu untuk dibicarakan"

Begitu pula menurut Marc Gobe, dalam bukunya Emotional Branding, yang mengatakan bahwa "pendekatan yang melibatkan berbagai faktor emosional sangat penting untuk membuat sebuah produk tak terlupakan oleh customer mereka" (yang terakhir ini..bahkan lebih jauh dari perkiraan Gobe..Bu Gito cendrung membuat customernya benar-benar emosi !!..hehehe..)

Nah..lain halnya dengan contoh konyol Bu Gito, cerita ke-2 ini tentang sebuah bengkel langganan kami...punya sesuatu yang berbeda..yang membuat aku betah berkunjung kesana.

Sesuatu itu adalah ruang tunggu mereka..sangat unik..yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan teknologi perbengkelan..

Sebuah ruangan luas ber-AC dan bebas asap rokok dengan 4 kumpulan sofa yang mengelompok dibeberapa tempat demi menjamin privacy. Membentuk suasana rumah, ruang keluarga lengkap dengan TV, majalah, cemilan bahkan play station ! Belum lagi 10 buah PC yang nangkring dengan fasilitas internet..free of charge..!! Itu belum seberapa. Ada empat buah kursi pijat modern yang merupakan produk dari sponsor yang dapat digunakan semau-maunya oleh kami, para customer yang sedang menunggu ini..lengkap dengan dua orang wanita cantik yang akan membantu kita mengoperasikan kursi tersebut ;)

Perbedaan yang jelas-jelas menyentuh kami secara emosional.

Nah..lengkap sudah pelajaran hari ini..setidaknya buat aku pribadi.. :)
dari mulai Bu Gito..hingga bengkel favorite ku.

Setiap manusia unik..cuma ada satu dan satu-satunya..yang perlu kita lakukan hanya menggali keunikan kita masing2..that's all (*)

Thinking Global, Act LocallyWhat a wonderful world ! What an exciting journey !!