"Ajarkan sesuatu dengan contoh, dengan tindakan yang bisa dilihat anak. Semisal orang tua mengajarkan disiplin dalam bertingkah laku." Seto Mulyadi - Komnas Perlindungan Anak
Banner


Hati-hati jika anak terlalu suka menolong

User Rating: / 0
PoorBest 
“NDRE,kamu saja ya yang nyatet, nanti aku pinjam catatanmu,”bisik Nova saat pelajaran Bahasa Indonesia.“ Iya,” balas Andre berbisik. Jam pelajaran berikutnya,“Ndre, nanti tolong sekalian buatin PR-ku ya,”pinta Reza.
“Oke,”sahut Andre. Apakah Moms pernah mendengar cerita si kecil mengenai temannya di sekolah yang selalu siap sedia “menolong” temannya yang lain. Atau justru sang buah hati kerap menjadi “penolong” bagi teman-temannya. Kalau iya, hatihati Moms, bisa jadi si “terlalu baik” ini sedang berusaha untuk diterima oleh teman-temannya. Yuk,tilik lebih lanjut! Masa sekolah atau usia sekolah – enam sampai dua belas tahun – dijelaskan oleh tokoh psikologi, Erik Erikson sebagai fase berkembangnya perasaan kompeten dalam mengerjakan tugas.
Erikson juga menjelaskan mengenai tahapan perkembangan psikososial manusia sejak usia dini sampai usia tua dengan melihat adanya konflik internal. Artinya, apakah tugas perkembangan pada fase itu terpenuhi atau tidak. Nah, bicara mengenai anak usia sekolah, pada diri mereka akan berkembang tahapan industry vs inferiority. Artinya, anak mengembangkan rasa kompeten pada dirinya untuk dapat mengerjakan tugasnya sebaik mungkin, aktif mencari kegiatan, dan menyelesaikannya dengan baik. Ciri inilah yang disebut dengan industry.
Bila kompetensi tersebut tidak ditunjang, maka akan tumbuh perasaan inferior atau merasa tidak memiliki kemampuan. Misal, dia banyak melakukan kesalahan dalam mengerjakan tugas, adanya kegagalan dalam mencapai tujuan-tujuannya. Bila mengacu pada tahapan industry-inferiority, maka anak yang ”selalu” menolong bisa saja sedang mengembangkan rasa industry- nya. Di mana dengan penuh keyakinan diri, dia merasa mampu mengerjakan tugas-tugas tersebut.
Hanya saja, perilaku itu belum disertai dengan manajemen diri yang baik sehingga dia tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas pribadinya. Jika hal itu terjadi, tugas orang tua atau guru adalah mengajarkan anak untuk dapat mengerjakan tugas sesuai dengan agenda harian atau jadwal kegiatan hariannya secara tepat. Dengan begitu, anak belajar membuat skala prioritas dalam mengerjakan tugas. Dapat juga dilihat dari sisi lain bahwa perilaku tersebut adalah untuk menolong teman yang kesulitan dalam mengerjakan tugas.
Hal ini pun merupakan ekspresi dari rasa industry yang ada pada anak itu. Dia merasa yakin dapat menolong temannya dengan cara tersebut,sekalipun pemahamannya lebih bersifat egosentris perasaan diri untuk dapat menolong orang lain tanpa memahami dampak positif dan negatif pada orang yang ditolongnya. (okezone/sindo) 
Share on facebook
Follow Us
Banner
Banner
Hit Kunjungan
698869
Hari ini26
Kemarin142
Minggu ini431
Total Kunjungan698869
Dollar Income..!!!
Powered by