Antara Kecerdasan Emosional Dan Intelektual

User Rating: / 9
PoorBest 

Oleh Prof Dr H.M. Yacub, M. Ed

Sejak usia muda siapa saja (yang normal dan berbudaya) merindukan terwujudnya suatu keluarga yang sakinah (bahagia dan tenteram). Pada masa lalu orang-orang yang diidam-idamkan adalah apa yang disebut dengan a complete man atau "manusia seutuhnya" dan untuk masa datang bagaimanakah insan yang dikehendaki pada jamannya dan bagaimana pula kualifikasinya? Apakah mereka harus memiliki kecerdasan emosional dan semangat kompetitif di samping etos kerja yang tinggi yang pada akhir-akhir ini selalu diperbincangkan dalam masyarakat supra modern. Isu di atas ini akan dianalisis dan dibahas dalam tulisan ini. Dikatakan demikian karena Hilary clinton telah memilih dan menghadiah buku tentang Emosional Quotion (kecerdasan emotional) sebagai isu paling ngetop dalam membina dan meningkatkan kualitas SDM di Amerika Serikat pada masa kini dan masa depan.

Di dalam keluarga siapa dan di mana saja diharapkan terdapat putera-puteri yang sehat/kuat tubuhnya, cerdas/pintar otaknya, luas dan dalam ilmu pengetahuannya serta baik/luhur akhlak/budi pekertinya. Pada sisi lain generasi penerus itu juga memiliki keterampilan/keahlian secara fisik dan mental, mampu mengerjakan satu atau dua karir (pekerjaan/jabatan) dengan baik dan produktif. Dengan pekerjaannya itu seseorang dapat menolong hidup dan kehidupan dirinya dan orang lain yang menjadi tanggungjawabnya serta menjadi sumber rejeki bagi orang-orang lain yang pantas mendapat pertolongan dari orang itu. Dengan kata lain para orang tua merindukan adanya putera-puteri atau insan-insan yang dapat bermanfaat tidak saja untuk dirinya dan tapi juga bagi orang-orang lain di sekitarnya. Apakah kriteria keberadaan orang-orang muda seperti yang diutarakan di atas sudah cukup, dalam mengharungi kehidupan dalam suatu jaman yang di dalamnya terdapat persaingan yang begitu kompetitif, tidak saja dari kalangan bangsanya sendiri tapi juga dari orang-orang yang datang dari luar negeri? Dengan kata lain para orangtua pada masa kini dan masa depan didorong membina anak dan kaum keluarga lain serta keturunannya sedemikian rupa sehingga akan terwujud insan-insan yang di dalam kepribadiannya terdapat kecerdasan intelektual dan emosional, unggul/bersifat kompetitif dan memiliki skill (psikomotor) tapi secara holistik (fisikal, verbal dan mental). 

Pada masa dulu para pakar psikologi dan pendidikan berpendapat bahwa intelektual (kecerdasan pikir) merupakan faktor penting dan dominan dalam mencapai keberhasilan belajar dan bekerja. Dalam kajian ilmu manajemen pada tempo dulu faktor intelektual merupakan salah satu faktor yang sangat ditonjolkan di samping faktor-faktor lainnya misalnya etos kerja dan lain-lain. Apa yang disebut dengan kecerdasan emosional belum menjadi perhatian orang, padahal keberadaan kecerdasan emosional pada orang-orang tertentu itu telah menjadi kenyataan sejak manusia ini ada di bumi ini. Penulis yakin bahwa para pembaca ingin tahu lebih jauh apakah yang dimaksud dengan kecerdasan emosional (EQ) dan apakah bedanya dengan kecerdasan intelektual (IQ). Sebelum diuraikan lebih jauh tentang EQ kita perhatikan lebih dulu yang dimaksud dengan IQ (Intelektual Quotion atau kecerdasan pikiran). Telah kita ketahui bersama kecerdasan pikiran (intelektual) adalah Ketinggian dan Kecepatan Seseorang Dalam Mengambil Kesimpulan Yang Jitu Dan Diikuti Oleh Tindakan Yang Jitu Pula Ketika Menghadapi Masalah Yang Belum Pernah Dihadapi Sebelumnya.

Contoh:

a. Menurut pandangan para pakar pendidikan mereka yang lulus dalam ujian tertentu tanpa nyontek atau diajari orang lain ketika sedang ujian misalnya dalam ujian: Masuk PTN, Toefel dll yang belum pernah ditempuhnya (untuk pertama kalinya) tanpa mereka pernah mengikuti bimbingan studi atau latihan-latihan khusus dan skor yang dicapainya sangat memuaskan, mungkin sekali mereka memiliki IQ yang tinggi. Namun harus diingat hasil ujian yang sangat memuaskan di sekolah/fakultas belum tentu menggambarkan adanya IQ
yang berkualitas. Untuk mengetahui kualitas IQ seseorang biasanya melalui psiko tes.

b. Anak-anak, remaja dan orang dewasa yang telah diuji kecerdasannya dengan IQ tes dan skornya ternyata dalam rentangan 100 sd 140, mereka yang seperti ini termasuk orang yang IQ-nya tinggi dan sangat tinggi. Menurut para pakar psikologi dan pendidikan kualitas IQ seseorang bersifat given atau suatu rahmat dari penciptanya dan sulit diubah. Anak-anak yang rendah inteligensinya misalnya di sekitar ambang paling bawah pada umumnya sukar di tingkatkan. Itu sebabnya untuk mereka yang seperti itu disiapkan Sekolah Luar Biasa (SLB). IQ yang tinggi dapat melorot drastis karena kecelakaan atau gangguan psikhis. Bagaimana mendongkrak IQ anak-anak yang normal para pakar pada umumnya angkat bahu karena memang sudah begitu dari "sono"nya.

C. Anak-anak dan remaja yang IQnya tinggi pada umumnya tidak mengalami kesukaran dalam menyelesaikan proses belajar yang ditempuhnya. Pada sisi lain mereka yang IQ-nya tinggi tanpa didukung oleh kualitas emosi yang baik jika mengalami frustasi dapat menyebabkan terjadinya gangguan mental.

Berikut ini kita simak pula apa yang dimaksud dengan kecerdasan emosional (EQ). Menurut Salovery dan Mayer, EQ dapat diartikan sebagai : Himpunan Bagian Dari Kecerdasan Sosial dan Emosi, Baik Dari Diri Sendiri Maupun Pada Orang Lain, Memilah-Milah Semunya Dan Menggunakan Informasi Ini untuk Membimbing Pikiran Dan Tindakannya. Untuk memudahkan dalam memahami EQ dapat diperhatikan contoh-tontoh sbb:

a. Thomas A. Edison (penemu arus listrik) ketika masih belajar di sekolah adalah anak yang "bodoh" dan akhirnya putus sekolah. Namun berkat bimbingan ibunya, Edison menjadi remaja yang ulet, sabar dan tekun melakukan studi dan percobaan-percobaan secara mandiri dan pada gilirannya ia mendapatkan arus listrik, bola listrik yang dapat menerangi ruangan yang gelap menjadi terang. Pada gilirannya orang-orang lain telah merekayasa arus listrik sehingga begitu bermanfaat atau sebaliknya dalam kehidupan kita dewasa ini.

b. Steven Spielberg satu dari sekian banyak dari produser film layar perak dan termasuk salah seorang dari Sepuluh Orang Miyarder di dunia dalam abad 20 ini. Spielberg juga bukan anak yang pintar di sekolah dan orang tuanya bercerai ketika masih kecil sehingga hidupnya sengsara dan pahit sekali. Setelah ia lulus dari pendidikan ia mencoba menjadi pembuat (produser) film cinema. Pada mulanya ia selalu gagal dalam mencapai cita-cita itu. Namun pada tahun 1975 sukses pertama dirainya dan pada tahun 1980 dengan film "Exrteme Tenderness" dan "Poltergeist" adalah dua dari sekian banyak produksinya yang meraup keuntungan $ 800 juta. Dengan keuntungan yang besar itu ia termasuk konglomerat utama di Amerika Serikat.

c. Para pemimpin negara dan agama pada umumnya adalah insan-insan yang dalam kepribadiannya terdapat EQ yang tinggi di samping adanya kecerdasan pikiran yang dimilikinya. Thomas Jefferson adalah salah seorang presiden AS yang memiliki EQ dan IQ yang prima dan berimbang, sedangkan Roosevelt dianggap IQ-nya kelas dua tapi EQ-nya prima, sedangkan John F Kenedy IQ-nya baik sedangkan EQ-nya tidak demikian. Para nabi pada umumnya memiliki EQ yang tinggi. Dalam sejarah Islam Nabi Muhammad S.A.W pernah dilempari batu dan ia luka-luka ketika itu. Jibril menawarkan agar ia berdoa kepada Tuhan agar
orang yang memusuhinya itu dimusnahkan. Nabi itu berkata dan bedoa agar Tuhan menunjuki "musuh"nya itu mendapat petunjuk dan keampunan. Ketika ia akan menuju ke suatu tempat setiap hari ada orang bencinya selalu meludah dan menghinanya. Suatu ketika orang selalu berbuat tidak senonoh kepadanya
itu sakit yang agak parah. Orang yang mula-mula menjenguk orang itu adalah Muhammad SAW . Pada gilirannya orang yang membenci Nabi menjadi salah seorang pengikut Muhammad yang setia.

Dari contoh-contoh di atas dalam ciri-ciri pribadi orang yang EQnya tinggi pada umumnya terdapat kualitas yang tinggi dari aspek-aspek:

a. empathi (kepedulian terhadap orang lain dan dirinya).
b. terampil dalam mengungkapkan dan memahami perasaan.
c. mampu mengendalikan diri ketika sedang marah,
d. memiliki kemandirian, penyesuaian diri,
e. disukai orang lain di sekitarnya.
f. memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah yang aktual/masalah antar pribadi.
g. memiliki ketekunan dalam belajar/bekerja dan tidak berhenti sebelum tuntas.
h. memiliki kesetiakawanan yang tinggi,
i. memiliki keramah-tamahan dan sikap hormat kepada siapa saja.

Apakah ciri-ciri pribadi di atas ini telah anda miliki atau apakah ciri-ciri tersebut telah ada pada diri anak kita atau peserta didik yang kita asuh. Dapatkah EQ itu ditumbuhkembangkan? Laurence E Shapiro dalam bukunya "How To Raise A Child With A High EQ, A Parent Guide to emotional intelligent" mengemukakan bahwa orang tua/guru yang EQ-nya tinggi akan mudah membinah anak-anaknya memiliki ciri-ciri kepribadian yang sama dengan dirinya. Pada sisi lain para orang tua/guru yang biasa-biasa saja juga dapat berbuat yang
sama asal mereka memahami apa yang dimaksud EQ dan dengan tekun melatih anak-anaknya atau mereka yang diasuhnya dari sisi:

a. emosi dan moral anak-anak yang diasuhnya
b. keterampilan berpikir EQ
c. keterampilan dalam pemecahan masalah secara pribadi dan secara kelompok.
d. keterampilan interaksi sosial lainnya.
e. mampu memotivasi dirinya dan kemampuan berprestasi
f. kekuatan emosi dan pengendalian diri.

(Penulis Ketua Bidang Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Wilayah
Sumatera Utara) - (waspada.com)