"Buatlah diri anda berguna bagi orang lain." Ralp W Emerson (1803-1882) pujangga dan dosen asal AS
Banner


Mengubah persepsi malas

User Rating: / 2
PoorBest 

Hampir setiap orang pernah dihinggapi "penyakit" malas terhadap pekerjaan atau tugas tertentu. Perilaku ini tumbuh lantaran salah persepsi terhadap pekerjaan tersebut. Pengaruhnya sangat besar pada produktivitas. Lantas, apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya?

Sunarya, sebut saja pelajar SMU itu begitu, dikeluhkan orang tuanya kurang akrab dengan buku pelajarannya. Ia sering keluyuran bersama teman-temannya pada jam-jam sekolah tanpa tujuan jelas. Yenny yang sudah mahasiswi juga begitu. Kalau diajak melakukan diskusi ilmiah, jawabannya sering kali "Ogah ah!". Bahkan, Jono yang masih menganggur pun enggan bangun pagi untuk segera mencari informasi lapangan kerja atau berusaha membuka lapangan kerja sendiri. Tampak ketiganya seakan-akan tak memiliki gairah untuk beraktivitas. Orang menyebut "gejala" macam ini sebagai malas, yang dalam psikologi dimasukkan sebagai salah satu bentuk perilaku.
Kalau kita simak Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud malas adalah tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu, segan, tidak suka, tidak bernafsu. Dari kacamata psikologi, menurut Dr. Sukiat, menunda pekerjaan atau menyelesaikan tugas tapi tidak sesuai waktu yang sudah ditetapkan saja sudah bisa disebut perilaku malas. Muara perilaku ini sudah tentu penurunan produktivitas yang bersangkutan.
Pada era globalisasi, perilaku malas bisa merugikan yang bersangkutan. Sebab, pada era itu berlaku sistem nilai "siapa yang mampu dan mau bisa produktif dan menyesuaikan diri". Bayangkan saja, prestasi atau produktivitas macam apa yang bakal dicapai Sunarya, Yenny, atau Jono bila terus berperilaku semacam itu. Tapi, perilaku ini bukanlah kartu mati yang tidak bisa diubah.

Menurut Dr. Sukiat, seseorang bisa berperilaku malas terhadap suatu pekerjaan atau kegiatan karena dia tidak memiliki motivasi untuk melakukan pekerjaan atau kegiatan itu. Dalam psikologi, seseorang berperilaku tertentu karena adanya energi yang mendorongnya untuk berperilaku. Energi inilah yang disebut motivasi, yakni hal yang mendorong seseorang bertingkah laku mencapai suatu tujuan. "Orang Jawa sering menyebutnya sebagai niat ingsun," jelas Sukiat. Motivasi dipengaruhi oleh suatu sikap yang terdapat dalam diri orang itu. Sikap yang bisa positif atau negatif itu timbul lantaran adanya persepsi atau pemberian makna terhadap suatu objek atau peristiwa. Persepsi atau pemberian makna tersebut ditentukan oleh suatu sistem nilai, yakni suatu patokan untuk berperilaku yang berlaku pada suatu lingkungan tertentu. Sistem nilai yang
tertanam dalam diri seseorang ini dipengaruhi oleh budaya, masyarakat, dan orang tua. Dalam hal ini, malas belajar, berdiskusi, atau mencari pekerjaan yang ditunjukkan Sunarya, Yenny, atau Jono, terjadi lantaran mereka tidak memiliki motivasi untuk melakukan tugas di depan mereka. Ini akibat sikap mereka terhadap kegiatan itu negatif atau positif-negatif. Sikap tersebut muncul karena di benaknya tertanam persepsi yang salah terhadap tugas-tugas tadi. Umpamanya, belajar atau berdiskusi itu melelahkan atau tak ada gunanya, dan mencari kerja buang-buang tenaga saja bila tidak punya koneksi. Persepsi macam itu bisa terjadi kalau dalam keluarga atau lingkungan di sekitar mereka kurang tertanam budaya belajar, berdiskusi, atau hampir semua rekan mereka memperoleh pekerjaan berkat bantuan orang lain atau uang sogok.
Sukiat memberi contoh lain. Salah satu etnis di Indonesia terkenal rajin dan serius dalam bekerja. Perilaku ini muncul lantaran mereka memiliki suatu sistem nilai bahwa kalau ingin hidup layak, mereka harus bekerja keras. Sistem nilai itu telah ditanamkan oleh orang tua sejak kecil dalam perilaku sehari-hari, baik dalam memarahi, memberi nasihat, atau memberi suatu contoh. Lingkungan budaya etnis ini juga memberikan teladan. Mereka yang hidup layak ya karena mereka bekerja keras. Sebaliknya, yang berkekurangan lantaran tidak mau bekerja keras. Dengan sistem nilai itu, mereka mempunyai persepsi atau memberi makna bahwa pintar menjahit, membuat tahu, atau berdagang, bakal bisa menghidupi mereka. Bukan menyengsarakan. Jadi mereka akan serius dalam melakukan tugas itu. "Mereka percaya, apa saja bisa menjadi duit, asal dikerjakan dengan sungguh-sungguh."  Dengan begitu, sikap mereka dalam bekerja sangat positif. "Kalau
mengerjakan sesuatu, niat mereka sangat kuat, energinya kuat. Akhirnya, mereka berperilaku rajin bekerja."
Contoh lainnya, karyawan suatu kantor yang "menganut" nilai RMS (rajin malas sama saja) bakal menjadi malas melakukan tugasnya. Ketika pindah ke kantor yang nilai profesionalismenya dijunjung tinggi, perilakunya pasti berubah. "Karena di kantor seperti itu sistem nilainya: 'Kamu bekerja baik, imbalannya baik. Kamu tidak bekerja, prestasi rendah, imbalannya juga rendah, kalau perlu di-PHK'. Jadi persepsinya, pekerjaan adalah sesuatu yang bisa meningkatkan penghasilan saya dan bisa menghidupi saya. Karena pemberian maknanya seperti itu, maka sikapnya terhadap suatu pekerjaan jadi positif. Akhirnya, motivasi jadi kuat, kerjanya rajin. Tetapi kalau sikapnya positif, sedangkan lingkungannya tidak mendukung, ada diskriminasi misalnya, sikapnya bisa menjadi negatif, motivasinya berkurang, sehingga dia bisa menjadi malas, bahkan keluar," jelas psikolog yang penah mengasuh rubrik pasutri di sebuah majalah ibu kota ini. Bisa diubah
Kalau seseorang malas terhadap suatu pekerjaan, artinya motivasi dia terhadap pekerjaan tersebut sangat rendah. Sikapnya terhadap pekerjaan itu negatif akibat persepsi yang diberikannya terhadap pekerjaan itu kurang baik. Ini lantaran sistem nilai yang ada dalam dirinya membuat dia berperilaku malas untuk melakukan pekerjaan itu. Sementara terhadap pekerjaan lainnya mungkin tidak begitu. Jadi, perilaku malas, menurut Sukiat, merupakan hasil suatu bentukan. Artinya, perilaku itu bisa dibentuk kembali menjadi baik atau tidak malas. Salah satu bukti bahwa perilaku bisa dibentuk lagi bisa ditemukan pada pelaku tindak kriminal seperti pembunuh atau perampok. Ada mantan narapidana kini menjadi tokoh agama atau pengusaha yang baik. Padahal, dulunya mereka perampok, pembunuh, atau pelaku tindak kriminal lain. Atau sebaliknya, orang baik-baik berubah jadi berperilaku buruk. Pembentukan kembali perilaku seseorang tadi sebetulnya sangat besar dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya, bisa orang tua, teman, atau orang lain di sekitarnya. Lingkungan yang bisa memberi pengaruh lebih kuatlah yang bisa membentuk seseorang. Umpamanya, seorang remaja lebih banyak waktunya bertemu atau lebih dekat dengan teman-temannya ketimbang orang tuanya. Teman-temannya termasuk kelompok remaja yang malas. Maka, dia lebih mudah terbentuk menjadi anak malas ke sekolah meskipun sebelumnya dia termasuk murid yang tak pernah bolos. Biasanya, kalau itu terjadi, orang tua lalu menyalahkan si anak karena tidak mau mencontoh orang tua. "Padahal, si orang tua sendiri lupa untuk menanamkan persepsi bahwa belajar itu penting atau mempunyai arti bagi hidup si anak. Biar disuruh belajar, belajar, anak bisa saja menolak karena tidak tahu tujuan belajar itu untuk
apa?" tambah Sukiat. Bagi orang tua yang mengalami masalah seperti itu tak perlu risau. Seseorang yang telanjur berperilaku malas bisa dibentuk kembali menjadi tidak malas. Namun, itu tergantung anak atau orangnya. "Kalau anaknya masih SD, ya masih mudah dibentuk. Tapi kalau anak remaja, umumnya apa yang
dikatakan orang tua, masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Jadi, yang harus kita bentuk adalah lingkungan teman. Peer group-nya kita rangkul dan pemberian makna terhadap suatu pekerjaan atau sekolah harus kita ubah. Yang tadinya 'belajar itu suatu kewajiban sekolah' diubah menjadi 'dengan belajar di sekolah dia bisa hidup'," jelas dosen Fak. Psikologi UI ini. "Jadi dalam mengubah perilaku seseorang, yang paling mendasar adalah mengubah persepsinya. Untuk itu, perlu mempelajari dan mengambil sistem nilainya yang bisa mengubah persepsinya atau memberikan sistem nilai lain yang baru baginya," tambahnya.
Jadi, perilaku manusia pada dasarnya dapat diubah. "Namun, ada hal yang tidak dapat diubah, yakni perilaku-perilaku yang erat kaitannya dengan fisik," jelas Sukiat. Misalnya, seseorang yang berkaki panjang sebelah.
Kalau dia disuruh berperilaku jalan normal, dia tidak bakal bisa melakukannya. Seseorang yang memiliki penyakit tekanan darah tinggi, dia akan mudah marah atau waswas. Ini juga tidak dapat diubah. Seseorang yang kecerdasannya rendah karena sel-sel otaknya tidak berkembang dengan baik ketika masih kecil, sulit melakukan pekerjaan yang mengandung pemecahan masalah. Jangan beri dia tugas seperti itu. Anak yang tingkat kecerdasannya rendah, relatif sulit untuk di-charge (dimotivasi) menjadi rajin. Kalau dia tidak mampu dalam hal pelajaran matematika, sudah tentu energi untuk belajar matematikanya juga kurang. Ujung-ujungnya, perilaku yang ditampilkan adalah malas belajar matematika atau bahkan malas sekolah. Ada juga anak yang mampu, tapi orang tuanya membandingkan kepintarannya dengan kakak atau adiknya. Lama-lama akan terbentuk konsep diri yang negatif. Akhirnya, dia memberikan makna pada matematika sebagai sesuatu yang sulit. "Padahal sebenarnya dia mampu. Tapi karena lingkungannya menganggap dia tidak mampu, sikapnya terhadap matematika menjadi negatif, energinya kurang dalam mengerjakan matematika, sehingga dia jadi malas-malasan terhadap pelajaran itu."

Teori pembiasaan
Ada beberapa teori yang bisa digunakan untuk melakukan pembentukan perilaku seseorang, di antaranya dua teori pembiasaan yang dikemukakan oleh Dollard & Miller dan Bandura, ketiganya psikolog dari AS. Teori ini kira-kira senada dengan pepatah "Ala bisa karena biasa". "Yang paling cocok untuk saya, teori belajar. Bagaimana kita memberikan stimulus (rangsangan) supaya terbentuk suatu respons atau perilaku. Bagaimana stimulus itu menjadi cue (stimulus dalam dirinya yang mengarahkan  untuk berbuat), sehingga menimbulkan suatu drive (dorongan) untuk berperilaku. Kalau berhasil, dia akan mendapatkan reward (imbalan)." Ini teori Dollard & Miller.
Teori lain yang dikemukakan Bandura sering disebut teori panutan. Dalam teori ini ada stimulus dalam bentuk oral atau visual yang diberikan oleh seorang model atau tokoh. Stimulus ini disimpan atau diingat, dan suatu saat akan dilakukan sebagai suatu perilaku. Dari tindakannya dia akan mendapatkan suatu reward. "Ini lama-lama menetap," kata Sukiat.
Contohnya, dalam suatu keluarga orang tua giat bekerja dan selalu menasihati anak untuk mencapai prestasi. Anak, yang melihat orang tuanya bekerja keras (visual) dan sering memberikan nasihat atau cerita (oral) soal perlunya bekerja keras, akan timbul persepsi bahwa sesuatu itu dapat diperoleh dengan kerja keras. Dari sana bakal terbentuk tingkah laku kerja keras dalam diri anak. Bisa jadi pemberian makna atau persepsi soal pentingnya belajar, mengikuti diskusi ilmiah, atau berusaha mencari pekerjaan, tidak ditemukan dalam diri Sunarya, Yenny, ataupun Jono. (Gde/Masitoh EO, Majalah Intisari)

Share on facebook
Follow Us
Banner
Banner
Hit Kunjungan
712773
Hari ini197
Kemarin185
Minggu ini574
Total Kunjungan712773
Dollar Income..!!!
Powered by