"Kapan pun ada pekerjaan berat, saya tugasi seorang pemalas untuk melakukannya. Sebab dia pasti akan mencari cara termudah untuk menyelesaikannya." Walter Chrysler, pendiri Chrysler Corp
Banner


Paradigma yang salah tentang otak kanan

User Rating: / 1
PoorBest 

Jika selama ini banyak orangtua yang memasukkan anak-anaknya untuk mengikuti kegiatan ekstra kulikuler yang “berat” seperti matematika. Ada baiknya Anda juga memikirkan alternatif kegiatan yang dapat menstimulasi otak kanan anak. Menurut penelitian ilmiah, otak manusia terbagi atas otak kiri dan kanan. Kemampuan dari masing-masing otak itu juga berbeda. Jika otak kiri diidentikkan dengan kecerdasan analitik seperti kemampuan matematis dan berpikir secara sistematis, maka otak kanan biasa dikaitkan dengan kreativitas, misalnya kemampuan berkomunikasi dan seni.

Sayangnya, seringkali orangtua tidak mengukur minat dan bakat yang dimiliki anak. Berdalih agar anak meindapatkan pengalaman dan pemahaman yang luas, anak-anak diharuskan mengikuti berbagai kursus yang didaftarkan olehorangtuanya.

Menurut Executive Director pre-school dan Kindergarten Pestalozzi, DR. Dharmayuwati Pane, MA, lebih baik jika kursus atau les yang diberikan anak dapat menstimulasi otak kanan, tidak hanya otak kiri. Bagian otak kiri sudah banyak didapat anak dari pelajaran di sekolah.

“Stimulasi otak kanan itu seperti kursus musik, atau yang mengolah tubuh juga seperti berkuda atau renang,” ujar Wati, sapaan akrab Dharmayuwati.

Menurut Wati, manusia terlahir dengan kemampuan otak kiri, sehingga yang perlu diasah ialah otak kanan. Apalagi stimulasi otak kiri sudah banyak diterima anak dari sekolah. Jadi kursus atau les sebaiknya melengkapi stimulasi otak kanan.

Namun, dia juga mengingatkan agar orangtua juga melihat karakteristik anaknya terlebih dahulu. Kemudian, orangtua dapat mengarahkan anak.

“Contoh, orangtua ingin mendidik anak menjadi pemusik atau menyukai musik. Bisa menanamkan dengan pendidikan musik, perdengarkan kaset, alat musik, lama-lama anak mau. Anak saya juga awalnya sulit, kelas 2 SD baru suka dengan piano padahal saya ajarkan sejak play grup. Yang penting ibunya yang lebih banyak berperan,” tuturnya.

Bagi Wati, mengikutsertakan anak kursus juga bisa melatih disiplin. Agar anak selalu memiliki jadwal kegiatan yang berguna. Tentu saja, hal ini membutuhkan program dari orangtua sejak dini.

“Memang kalau anak ada bakat, lebih mudah. Kalau tidak ada bakat juga bisa, tapi harus ada disiplin diri,” ujar Wati yang menyelesaikan pendidikannya di Jerman.

Latihan bermain musik, menurut seorang ahli syaraf asal Jerman, tak hanya meningkatkan kinerja nalar otak, melainkan juga dapat meningkatkan kapasitas otak yang diperlukan bagi seseorang untuk dapat memproses rangsangan bunyi dan nada musik.

Kesimpulan itu diperoleh ahli syaraf Christo Pantev dan koleganya dari Universitas Munster, Jerman, setelah melakukan kajian terhadap pola citra magnetik yang merekam perbandingan otak-otak musisi terlatih dengan orang yang tak pernah memainkan notasi musik.

Riset sebelumnya di Amerika Serikat juga menunjukkan, pelajaran musik dapat meningkatkan intelegensia remaja. Musik dapat menaikkan kapasitas dan kualitas nalar otak. (Republika)

Share on facebook
Follow Us
Banner
Banner
Hit Kunjungan
693061
Hari ini83
Kemarin190
Minggu ini83
Total Kunjungan693061
Dollar Income..!!!
Powered by