Oleh : Dolly Deseka Tishvara. Pertama kali mendengar namanya, tentu saja tidak pernah terlintas bahwa orang ini istimewa di mata saya pada waktu itu. Menduduki jabatan Dirut PLN pertama kali. Toh.. sudah hal yang biasa-biasa saja pikir saya waktu itu. Namun, semakin ter-ekspose ke media massa dan semakin santer terkait isu peng-KPK an Dahlan Iskan, membuat namanya menjadi salah satu tokoh yang tersimpan di memori ingatan saya. Perasaan ngga simpati dengan gossip ini pun sempat tertanam juga. Beruntung aura positif soal beliau ini telah menjadikan rasa ingin tahu pribadinya. Saya mencoba ‘googling’, siapakah dia..? Wow ternyata catatan karir ‘swasta’nya berawal dari media massa, mulai dari wartawan Tempo hingga Jawa Pos dan beberapa media TV local lainnya. So, sangat mengherankan kok bisa mantan wartawan dan akhirnya bisa loncat ke PLN…? Entah siapa yang membawa ke sana, itulah awal penasaran saya, apa sih istimewanya orang ini sampai bisa masuk lingkaran istana...?
Kemampuannya telah mendongkrak Jawa Pos yang tadinya kembang kempis menjadi media terbesar di Indonesia wilayah timur, mampu menggebrak PLN menjadi sebuah korporasi yang mampu lari kencang sampai sidak nyelenehnya naik KRL / kereta ekonomi ke seantero jabotabek. Kemampuan dan kecerdasan apa yang dimiliki seorang Dahlan Iskan…? Tokoh ini mengingatkan saya fenomena Cacuk Sudaryanto mantan Dirut TELKOM yang sama-sama mampu membawa Perumtel (nama waktu itu) menjadikan TELKOM sebagai perusahaan raksasa di level global.
Dahlan Iskan, saya sama sekali tidak mengenal anda apalagi menjadi fans nya anda, namun pola asuh anda mendongkrak kinerja BUMN telah memberikan banyak pelajaran buat kita semua. Beberapa catatan yang saya rekam dalam otak saya, ternyata Dahlan Iskan sangat mempunyai bakat “kecerdasan operasional” dan “kecerdasan kebijakan”. Dua kecerdasan inilah yang mampu menjadikan semua jajaran di bawahnya menjadi bergerak aktif dan mau-tidak mau harus lari kencang. Ada sebuah fenomena di dalam hal manajemen perubahan, mitos melakukan perubahan dalam sebuah organisasi yang sudah 'akut penyakitnya' sangat menyulitkan. Bahkan hal ini juga di akui oleh mantan CEO IBM lou gerstner dalam wawancara pertamanya. Sama seperti Dahlan Iskan, lou gerstner sebelumnya CEO sebuah industry makanan yang sangat bertolak belakang dengan IBM yang serba canggih. Toh kemampuan lou gerstner mampu menyelamatkan IBM yang hamper kolaps waktu itu. Profesi wartawan bisa menjadi CEO BUMN .. wow. Tanya kenapa..? Kembali ke “kecerdasan operasional” dan “kecerdasan kebijakan” akan saya jabarkan di bawah ini.
Kecerdasan Operasional ala Dahlan Iskan.
Sebuah kecerdasan operasional itu memang tidak ada sekolahnya termasuk sekolah selevel Hardvard pun tidak pernah ada teorinya tentang ini. Apa sih kecerdasan operasional itu..? Kecerdasan Operasional ini merupakan rangkaian kemampuan seorang leadership yang mampu membaca situasi kritis dan siap melawan arus apa yang dilakukan pendahulunya. Ciri-ciri orang seperti ini adalah menyenangi turun tangan ke lapangan langsung dan segera mengkoordinasikan ke bawah. Selain itu, rasa ‘cuek’ atas level jabatan tinggi merupakan kekuatan yang dahsyat dan ini membawa dampak ke semua anak buahnya menjadi respek. Mau tidak mau menjadi pro-aktif. Sidak yang dilakukan pada operasional KRL yang lalu ini adalah salah satu contoh bagaimana seorang leadership harus turun ke tingkat operasional paling bawah sekalipun untuk mengetahui ‘bottleneck’ selama ini. No report oriented di awal orientasi di tiap perusahaan membuat dia menjadi lebih tahu permasalahan yang real dibanding Direktur yang sudah lama di perusahaan ini. Dan ini adalah kunci rahasia pertama yang boleh kita acungkan jempol. Terlepas dia mau cari sensasi kek, cari popularitas kek, toh hasilnya langsung terlihat. Ditambah lagi dukungan kolega medianya dan Menteri jaman twitter , akhirnya membuat Dahkan Iskan dalam waktu singkat sudah menjadi Tokoh skala “Selebritis Politik”. Sadar atau tidak, dia telah mampu memanfaatkan komitmen independen dan terus merasa enjoy dengan sikap operasionalnya yang konon bikin para direktur BUMN siap-siap lari. Kecerdasan operasional yang dia jalankan adalah kemampuan memanfaatkan “Power” untuk pegang kepalanya kalo bawahnya mau beres. Ibarat dia di perusahaan ecek2 bisa menjadi besar apalagi dia di biayai pemerintah dan mempunyai power, tentu saja men-drive organisasi sudah seperti mainan saja…!! Ngga perlu ‘pintar’ untuk mengelola BUMN2 raksasa.. cukup men-drive dengan selalu tidak lupa berbecek ria dilapangan akan membangkitkan gairah untuk eksekusi perbaikan-perbaikan tanpa henti. Kecerdasan inilah yang banyak dilupakan oleh para mantan atau menteri saat ini untuk ‘suka bergerilya’ ke lapangan tanpa perlu modal protokoler. Berapa banyak mantan eksekutif swasta yang dulunya sukses begitu duduk jadi menteri atau pejabat toh bukannya semakin bagus tapi malah menjadi kontra produktif. Berapa banyak sih mantan politisi yang duduk di kementerian toh melempem kinerjanya. Mudah-mudahan menteri-menteri yang lain besok pagi sudah ke pasar, sawah, jalan raya, pelabuhan, pengadilan, sambil bergerilya tanpa ajudan, kepala seksi kek… biar pada tahu kenapa dan apa problem utamanya. Ngga usah pakai wejangan-wejangan, tapi dengarlah dan pasang telinga lebar-lebar. Berilah kesempatan para eselon, direktur, kabag, toh mereka itu orang pinter lho kalo dikasih kesempatan berpendapat..!! Makanya, mumpung jadi menteri nyontek aja tuh jawabannya Dahlan Iskan....
Kecerdasan Kebijakan ala Dahlan Iskan.
Kecerdasan kebijakan itu tentu saja anda tidak akan pernah menemui teori ini dimanapun juga termasuk Wikipedia sekalipun. Jadi apa dong kecerdasan kebijakan..? Baik, kita mulai tengok kenapa Taiwan atau ngga usah jauh-jauh lah kenapa Malaysia itu lebih maju dari Indonesia yang selalu banyak jadi Juara olimpiade Fisika, Matematika, juara robot dan lain-lain. Mereka maju karena cuma modal “KEBIJAKAN”. Percaya atau tidak, mahluk kebijakan itu adalah motor penggerak ekonomi nasional yang sangat efektif dan terukur. Republik ini terkenal banyak orang pintar namun kurang cerdas dalam membuat kebijakan. Inilah harapan kita, mudah-mudahan Dahlan Iskan mewakili sosok kecerdasan kebjiakan, dimana dia tidak main politik politikan… ngga lagi liat siapa bosnya sekarang, yang penting bagi dia adalah semua BUMN seolah-olah menjadi ‘mainan’ buat dia untuk mengaktualisasikan bagaimana “Power” bisa dipakai untuk men-drive organisasi dengan sebuah kebijakan yang sangat tepat dan tidak pandang bulu. Kemampuan dia memilah kapan harus ke BUMN kere kapan harus ke BUMN kaya toh banyak kebijakan yang telah dia buat dalam waktu singkat dan semuanya dengan tegas. Tentu saja untuk menjadi cerdas dalam kebijakan itu syaratnya Cuma satu. Apa itu…? Syaratnya sederhana saja… saat ini sudahlah .. anggap saja kehidupan saya sudah makmur dan ngga usah lagi harus berpikir punya kekayaan ala socialita toh sekere-kerenya Menteri hidupnya masih jauh di atas rata-rata standar rakyat..!! So, kapan lagi bisa berbuat untuk republik… dan inilah yang bisa menjadi pendorong Dahlan Iskan menggunakan powernya untuk bikin kebijakan strategis walaupun banyak di benci kalangan internal. Dalam manajemen perubahan, perlawanan itu sudah hal yang biasa dan pasti selalu ada. Tinggal bagaimana terus melaju dan tetap konsisten yang dianggap baik untuk pro rakyat. Demikianlah dua kecerdasan yang telah dimiliki Dahlan Iskan dan semakin bersahabat dengan pro kebijakan public. Mudah-mudahan beliau tidak tergelincir karena blundernya sendiri atau di percepat oleh orang yang status quo. Tidak mengherankan, kalau saya pribadi sampai mengusulkan beliau
lebih baik menjadi CEO PT KAI (Kereta Indonesia) daripada Capres 2014 yang nantinya tercebur ke lumpur yang sulit keluar dari lingkaran setan keserakahan manusia politik.
(penulis adalah co-founder ooh-gitu.com dan pemerhati tokoh ‘manajemen perubahan’ )